Berita
59 Tahun Lingkungan Santa Maria Caturharjo (1967 - 2026): "Gumregah Guyub Rukun Nyawiji ing Gusti"
Tepat pada Hari Raya St. Perawan Maria Terangkat Ke Surga 15 Agustus 2026, Lingkungan St. Maria Caturharjo memasuki usianya yang ke-59. Sebuah rentang waktu yang mengantar Kring Tamanmartani Utara yang berada dalam teritori wilayah Kalasan Timur Paroki Marganingsih, menjadi sebuah Lingkungan St. Maria Caturharjo yang kini berada dalam teritori wilayah St. Matius Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus, Macanan.


Tahun 1967 menjadi titik awal berdirinya Kring Tamanmartani Utara yang kini telah menjadi Lingkungan St. Maria Caturharjo. Dengan beranggotakan tiga keluarga yang saling berjauhan; Kel. FX. Lasiran di Pulerejo, Kel. FB. Dahlan di Pucung, dan Kel. Y. Mudjijono di Karang Barepan, membangun persekutuan umat beriman yang menjadi bagian dari Paroki Marganingsih, Kalasan.
Gunung Merapi yang meletus pada tahun 1968 turut menorehkan tinta pada sejarah berdirinya Lingkungan St. Maria. Muntahan material Gunung Merapi yang mengakibatkan terputusnya akses menuju Gereja Marganingsih, Kalasan dan direlokasinya penduduk Dusun Karang Barepan di sebuah daerah yang kini bernama Dusun Caturharjo, mengakibatkan beralihnya teritori Kring Tamanmartani Utara dari wilayah Kalasan Timur ke wilayah Prambanan.
Bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan, begitulah perkembangan jumlah umat yang terus bertambah dari 3 keluarga menjadi belasan bahkan puluhan keluarga yang tersebar di Desa Kokosan, Taskombang, dan Kebondalem Lor. Reksa Pastoral Keuskupan Agung Semarang yang mengubah istilah kring menjadi lingkungan menggerakkan para pendahulu lingkungan bersepakat menimba rahmat dari Bunda Maria untuk kelangsungan berjemaat umat, dengan berlindung pada St. Maria yang Terangkat ke Surga yang pestanya diperingati setiap tanggal 15 Agustus.
Di usianya yang ke-59, umat Lingkungan St. Maria Caturharjo membingkai rasa syukur atas berdirinya lingkungan dalam sebuah rangkaian kegiatan yang bertajuk “Gumregah Guyub Rukun Nyawiji ing Gusti”, sebuah kesadaran untuk bangkit bergerak membangun kebersamaan umat yang sehati dan sepikir dalam sebuah kesatuan iman akan Tuhan yang hadir dalam setiap perjumpaan umat.
Perayaan Ekaristi Syukur bersama dengan segenap umat wilayah St. Matius dan St. Markus tepat pada tanggal 15 Agustus 2026 di Hari Raya Santa Perawan Maria Terangkat ke Surga di Gereja St. Lukas, Prambanan mengawali rangkaian Syukur 59 tahun berdirinya Lingkungan St. Maria.
Dalam homilinya Romo Agustinus Nunung Wuryantoko, Pr memberikan penekanan pada bagian akhir Surat Gembala Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-81 dengan meningkatkan perjumpaan, baik secara pribadi maupun komunal sebagai bentuk usaha memulihkan hubungan yang retak dan menolong keluarga yang kesulitan serta ajakan agar Urip iku urup. Hidup yang semestinya menjadi terang dan membawa manfaat bagi sesama.
Dengan menggunakan dua buah bus berkapasitas 25 orang dan sebuah minibus untuk mengantar 60 orang umat lingkungan menuju Boyong Resto Turi, menjadi puncak rangkaian Syukur 59 tahun berdirinya Lingkungan St. Maria. Famili gathering yang menjadi bentuk perjumpaan komunal -seperti yang disampaikan Romo Nunung dalam homilinya- menjadi momen perjumpaan yang saling meneguhkan dan menggembirakan. Acara ini diikuti oleh semua jenjang usia dari balita hingga adiyuswa yang dengan penuh antusias ingin merasakan keguyuban dan kerukunan umat yang tertuang dalam sebuah fun game yang dipandu oleh trainer professional.


Dengan menyanyikan yel lingkungan: Pring reketeg gunung gamping ambrol, umate rumaket lingkungane pancen jempol, umat Lingkungan St. Maria mengawali famili gathering dengan semangat kesatuan sebagaimana rumpun bambu yang karena kesatuannya bisa meruntuhkan gunung kapur yang keras. Demikianlah yang diharapkan agar Lingkungan St. Maria menjadi semakin “jempol”, berkenan dihadapan Allah dan menjadi berkat bagi sesamanya.
Bagian awal dari famili gathering diisi dengan sambutan Ketua Lingkungan St. Maria, Yusuf Didit Edy Prasetya dilanjutkan sambutan dari koordinator kegiatan pesta nama, Antonius Yoyok Andriyanto. Keduanya menekankan betapa pentingnya semangat kesatuan dan persaudaraan untuk mewujudkan sebuah lingkungan yang guyub dan rukun sehingga mampu menghadirkan wajah Allah melalui setiap perjumpaan dengan sesama.
Dalam renungannya, Prodiakon Paulus Anang Dwi Harijanto mengingatkan seluruh umat untuk meneladani anak-anak sebagai empunya Kerajaan Allah. Sikap tulus dan jujur seorang anak menjadi inspirasi dalam kehidupan berjemaat di lingkungan. Segala sesuatu yang kita lakukan sepenuhnya bagi kemuliaan Allah tanpa ada motivasi pribadi di sebaliknya. Jujur terhadap diri sendiri, jujur kepada orang lain, dan jujur di hadapan Allah.
Dipandu seorang trainer professional, semua umat dari balita hingga para adiyuswa dengan penuh antusias mengikuti ice breaking dan fun games yang diadakan di Boyong Resto. Dari permainan pengelompokan, umat disadarkan betapa manusia sering kali hanya mencari keuntungan dalam sebuah relasi. Manusia akan mencari orang lain di saat ia membutuhkan tetapi akan meninggalkan bahkan melupakannya saat orang lain sudah tidak memberikan keuntungan bagi dirinya. Maka guyub rukun berarti merengkuh semua orang tanpa melihat latar belakangnya, semua adalah saudara untuk semua yang saling membutuhkan dan saling meneguhkan.
Permainan kompetisi yang terdiri dari estafet bola, estafet paralon, memindahkan air, dan kecepatan memecahkan bola dalam plastik, semuanya mengajarkan tentang kesatuan tim, kesehatan, kekompakan, dan sportivitas dalam menjalani kehidupan ini. Terbuka terhadap koreksi dari orang lain, kesediaan untuk meminta maaf dan memaafkan, serta ikut berbangga terhadap keberhasilan orang lain.



Selamat atas 59 tahun Lingkungan St. Maria, Caturharjo. Semoga tansah gumregah guyub rukun nyawiji ing Gusti. Tuhan Yesus memberkati.
Ditulis oleh: Aleksius Ari Yuliyanto