Berita
Paguyuban Ibu-Ibu Santo Lukas Prambanan Bangkit dari Vakum, 70 Peserta Ikuti Rekoleksi
Setelah vakum selama setahun, Paguyuban Ibu-Ibu Wilayah Santo Lukas Prambanan kembali menghidupkan kegiatan organisasi. Langkah awal kebangkitan itu diwujudkan melalui kegiatan rekoleksi yang diikuti sekitar 70 peserta di SD Eksperimental Mangunan, Minggu (26/7/2026).

Kegiatan bertema “Hidupku, Keluargaku, Gerejaku Berbuah Dalam Kasih Kristus” ini berlangsung pukul 09.00 hingga 14.00 WIB. Rekoleksi difokuskan untuk memperkuat iman dalam keluarga, masyarakat, dan kehidupan menggereja.
Peserta terdiri dari ibu-ibu Wilayah Santo Markus dan Santo Matius, ketua lingkungan, para pendamping, serta anak-anak. Ketua Paguyuban Ibu-Ibu Santo Matius Prambanan, Yulia Siti, menyebut kegiatan ini sebagai momentum untuk menghidupkan kembali paguyuban.
“Rekoleksi ini untuk menggiatkan kembali paguyuban agar dapat mengembangkan iman dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun yang paling penting dalam kegiatan menggereja,” ujar Siti.
Rangkaian kegiatan dibagi menjadi tiga bagian, yakni permainan, pemaknaan, dan misa bersama.
Acara diawali dengan ice breaking. Selanjutnya peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk mengikuti berbagai permainan dari panitia, seperti halang rintang, membuat menara dari gelas kertas, dan memindahkan bola. Permainan ini dirancang untuk membangun kerja sama dan kebersamaan antarpeserta.

Pada sesi pemaknaan, setiap kelompok mengolah perlengkapan yang diperoleh sebagai hadiah permainan menjadi simbol yang merepresentasikan tema rekoleksi. Beragam kreasi dihasilkan, di antaranya kelinci, pesawat, kapal, hati, mahkota, dan pohon keluarga.
Melalui proses tersebut, peserta diajak merefleksikan keberagaman karakter dalam keluarga, mengambil pembelajaran dari setiap proses, menguatkan perjalanan rumah tangga, serta menghargai kehadiran orang lain sebagai bagian dari pertumbuhan bersama.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan misa yang dipimpin oleh Romo Yustinus Joko Wahyu Yuniarto, Pr. Dalam homilinya, Romo mengajak umat menjadi pribadi yang bijaksana dengan memprioritaskan perawatan diri sebelum melayani keluarga. Ia juga menekankan pentingnya menjaga martabat lansia dengan tetap melibatkan mereka dalam interaksi sosial yang ceria dan bermakna.
Salah satu peserta, Monika Kristin, mengungkapkan kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat kembali hubungan antaranggota paguyuban setelah lama tidak bertemu.

“Acara ini menjadi wadah untuk mempererat kembali hubungan antar ibu-ibu Santo Lukas Prambanan setelah sekian lama tidak bertemu. Kolaborasi yang diwujudkan setiap anggota wilayah dengan terlibat aktif dan bekerja sama dalam dinamika kelompok juga menjadi pengalaman yang luar biasa,” kata Monika.
Tulisan kiriman Yohanes Bhakti W.K.