Berita
Prodiakon Wilayah Prambanan Perdalam Makna Pelayanan dan Liturgi Katolik
Semangat melayani umat terus dirawat oleh Paguyuban Prodiakon Wilayah Prambanan melalui pertemuan rutin bulanan. Sebanyak 17 prodiakon berkumpul dalam suasana persaudaraan di kediaman Bapak Leonardus Sukacono, Cucukan, Prambanan, Kamis (17/9/2026).

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi para prodiakon untuk kembali menyegarkan semangat pelayanan, memperdalam pemahaman iman, sekaligus berbagi pengalaman dalam menjalankan tugas pelayanan di tengah umat.
Kegiatan diawali dengan Ibadat Sabda yang dipimpin oleh Bapak Leonardus Sukacono. Dalam renungannya, ia mengajak para prodiakon untuk menghayati kembali panggilan pelayanan, khususnya keberpihakan kepada mereka yang lemah, miskin, dan tersingkir.
Selain itu, para prodiakon diajak untuk menghidupi ajaran kasih Tuhan tanpa membeda-bedakan orang. Sikap tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dengan membangun cara pandang yang positif dalam menghadapi berbagai situasi pelayanan.
Ibadat Sabda dalam pertemuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pembinaan para prodiakon. Setiap prodiakon di Wilayah Prambanan mendapat kesempatan secara bergiliran untuk memimpin Ibadat Sabda.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi para prodiakon untuk semakin percaya diri dalam memimpin ibadat di lingkungan. Mereka juga dilatih untuk mengolah dan menyampaikan renungan yang relevan dengan bacaan Kitab Suci harian.
Dengan demikian, pelayanan tidak hanya dipahami sebagai pelaksanaan tugas, tetapi juga sebagai proses untuk terus bertumbuh dalam iman dan kemampuan melayani umat.
Usai Ibadat Sabda, pertemuan dilanjutkan dengan sarasehan. Kali ini, Lingkungan St. Paulus Kotesan menghadirkan Romo AR Yudono Suwondo, Pr., untuk mendampingi para prodiakon dengan tema “Pelayanan Prodiakon dan Liturgi Katolik.”
Dalam pemaparannya, Romo Wondo mengingatkan bahwa pelayanan prodiakon perlu dijalankan dengan gratia status, yakni rahmat yang menyertai kedudukan atau tugas pelayanan yang dipercayakan kepada seseorang.
Rahmat pelayanan tersebut perlu dihayati dengan sikap tulus dan bertanggung jawab. Seorang prodiakon diharapkan tetap menjalankan tugas pelayanannya dengan baik tanpa membiarkan perilaku pribadi orang lain memengaruhi semangat dan tanggung jawabnya dalam melayani.
Dalam konteks liturgi, Romo Yudono juga menegaskan bahwa pusat utama liturgi Katolik adalah Allah, bukan manusia. Pemahaman ini menjadi penting agar pelayanan liturgi tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi sungguh menjadi bagian dari perayaan iman dan penghormatan kepada Allah.
Sarasehan berlangsung secara interaktif. Para prodiakon memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbagi pengalaman, menyampaikan pergulatan dalam pelayanan, serta mengajukan berbagai pertanyaan berkaitan dengan tugas prodiakon dan liturgi Katolik.
Pertemuan rutin Paguyuban Prodiakon Wilayah Prambanan menjadi salah satu ruang untuk merawat kebersamaan sekaligus memperkuat spiritualitas pelayanan. Melalui doa, pembinaan, refleksi, dan berbagi pengalaman, para prodiakon diajak untuk terus menyadari bahwa pelayanan merupakan bagian dari panggilan untuk menghadirkan kasih Kristus di tengah umat.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat terus berlangsung secara rutin dan menjadi sarana bagi para prodiakon untuk saling meneguhkan, memperkaya pemahaman iman, serta memperkuat semangat pelayanan di lingkungan masing-masing.
Dengan semangat persaudaraan dan ketulusan, para prodiakon Wilayah Prambanan diharapkan semakin mampu hadir sebagai pelayan umat yang tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga memberi kesaksian tentang kasih Kristus melalui kehidupan dan pelayanan mereka.
Ditulis oleh Yohanes Bhakti W K

